Antara Sampah dan Keharmonisan Keluarga Muslim, Apa Hubungannya?

240330184334-antar.jpg

(Foto: istock)

Oleh Epi Aryani*

Tidak ada kegiatan manusia yang tak menghasilkan sampah, baik itu secara individu, keluarga maupun masyarakat.

Perkara sampah ini tidak bisa selesai hanya dilevel individu saja, tapi butuh peran negara.

Setiap negara punya sistem yang berbeda-beda dalam pengelolaan sampahnya. Kita bisa melihat fakta pengelolaan sampah di negeri sakura jika dibandingkan dengan pengelolaan antara di Indonesia dengan rumitnya tata kelola sampah di negeri asal Doraemon ini.

Tidak sedikit informasi yang tersebar baik itu di media sosial maupun media lainnya yang menginformasikan tentang tata kelola sampah di Jepang.

Disebutkan bahwa, sampah rumah tangga dikelompokkan berdasarkan jenisnya.

1. Sampah yang dapat dibakar
2. Sampah yang tidak dapat dibakar
3. Sampah daur ulang
4. Sampah beracun
5. Sampah dalam bentuk besar

Semua jenis sampah, ada jadwal angkutnya masing-masing. Dan sampah harus dimasukkan ke dalam plastik putih atau transparan.

Sebelum membuang sampah, pastikan tidak ada cairan yang masih tertinggal. Khusus untuk botol bekas dan bekas makanan, harus dicuci dan dikeringkan dulu sebelum dibuang. Sedangkan sampah barang besar (seperti TV, lemari, kulkas, dan lainnya) harus didaftarkan ke situs pemerintah setempat dan akan dikenakan biaya.

Di beberapa tempat sampah juga diawasi CCTV, jadi kita tidak boleh membuang sampah sembarangan jika tidak mau kena masalah atau sanksi.

Waktu pembuangan sampah biasanya dimulai jam 08.00 sampai jam 09.00. Sampah akan diangkut sesuai jadwal. Jika telat membuang sampah, siap-siap sampah tidak akan terangkut dan harus menunggu jadwal berikutnya.

Setiap wilayah punya jadwal yang berbeda-beda. Misalnya untuk jadwal pengangkutan sampah wilayah Yokohama (Kanagawa) bisa di akses di www.city.yokohama.lg.jp.

Sungguh perkara membuang sampah yang detil dan rumit ini mereka terapkan dengan tujuan menjaga kelestarian alam. Patut ditiru bagi masyarakat kita yang seringkali masih melakukan aksi buang sampah sembarangan.

Solusi Tuntas Kerumitan Sampah Rumah Tangga

Dalam Islam selain mengatur perkara ibadah perkara kehidupan pun ada aturannya termasuk urusan sampah.

Tidak hanya pengelolaannya tapi siapa yang seharusnya membuang sampah di keluarga pun ada aturannya, diantaranya:

1. Suami yang membuang sampah

Istri menjadi tidak repot dengan segala persiapannya memakai kostum keluar rumah, cara ini juga mengurangi resiko kaum muslimah bermaksiat, yaitu kecenderungan enggan menutup aurat ketika buang sampah, karena persiapannya memang rumit.

Aktivitas membuang sampah dilakukan di luar rumah, oleh karena itu, mengharuskan para muslimah menutup auratnya dengan jilbab dan kerudung. Perkara yang Allah wajibkan ketika wanita keluar rumah dikehidupan umum, termasuk ketika hendak membuang sampah (QS Al-Ahzab : 59 dan An-Nur : 31).

Juga didalam Islam, aktivitas membuang sampah adalah termasuk dalam aktivitas luar rumah yang merupakan tugas dari seorang suami.

Dalam kitab Nidzom Ijtima'i karangan ‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah. Beliau berpendapat bahwa seorang istri memang wajib mengerjakan tugas-tugas domestik. Dan peran suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang dilakukan di luar rumah.

Beliau mendasari pendapatnya pada keputusan Nabi SAW terhadap rumah tangga Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib ra.:

فَإِنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَضَى عَلَى ابْنَتِهِ فَاطِمَةَ بِخِدْمَةِ الْبَيْتِ ، وَعَلِيٍّ مَا كَانَ خَارِجًا مِنْ الْبَيْتِ مِنْ عَمَلٍ

Sesungguhnya Nabi SAW. menetapkan terhadap anak perempuannya, Fatimah, mengerjakan pekerjaan di rumah, sedangkan kepada Ali bin Abi Thalib pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah (Musnad Ibnu Abi Syaibah).

Hadits di atas diperkuat dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra sama-sama mengeluhkan pekerjaan mereka masing-masing kepada Rasulullah SAW.

Ali bercerita kalau pekerjaannya mengambil air (dari luar rumah) yang membuat dadanya terasa sakit. Sedangkan Fatimah mengadukan keletihannya menggiling tepung yang membuat tangannya melepuh. Namun Rasulullah SAW membiarkan hal itu dan justru mengajarkan kepada mereka berdua wirid dan zikir yang akan membuat mereka dicintai dan dimuliakan Allah SWT.

Sikap Rasulullah SAW. yang membiarkan pekerjaan Ali di luar rumah dan Fatimah di dalam rumah, menunjukkan penetapan beliau bahwa demikianlah aktifitas suami dan istri dalam Islam.

Seorang suami memang harus bekerja mendatangkan apa yang dibutuhkan istri dari luar rumah seperti membawakan air dan bahan makanan, sedangkan istri bekerja di sektor domestik/dalam rumah seperti menggiling tepung, memasak, dsb.

Syaikh Taqiyuddin juga menyebutkan bahwa seorang istri wajib melayani suami seperti membuat adonan roti, memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman jika suami meminta. Sebaliknya suami wajib menyediakan apa saja yang harus dilakukan di luar rumah seperti membuang sampah, menyediakan kayu bakar atau gas LPG, bahan makanan dari pasar, dsb.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Barriy [iii] juga mengatakan “Demikianlah Nabi saw. menetapkan Fatimah melakukan pekerjaan di rumah, sedangkan Ali melaksanakan pekerjaan di luar rumah.

Jadi, perkara suami membuang sampah adalah perkara yang penting yang ditetapkan Syara'.

1. Membuat desain arsitektur pagar khusus.

Membuat pagar dengan desain khusus supaya bisa membuang sampah dari dalam rumah, lalu sampah tersebut meluncur ke depan.

Jika sampah itu dibuang berdasarkan kategori, buatlah lubang pembuangan tersebut dengan beberapa sekat sesuai kebutuhan.

Desainnya semacam ini sangat memudahkan dan membantu para penghuni rumah membuang sampah mereka.

Adakalanya sang suami yang repot dengan pekerjaannya, tidak sempat membantu membuangkan sampah. Istrinya tak perlu repot keluar rumah, ia bisa membuang sampah tanpa harus menutup aurat dengan jilbab. Karena membuang dari dalam pagar.

Dua solusi ini sangat efektif mengatasi permasalahan membuang sampah.

Namun, masih ada lagi satu masalah. Kerumitan belumlah selesai ketika berbicara tentang TPA (tempat pembuangan akhir).

Jika sampah sudah dipilah sedemikian rupa tiap rumah tangga, maka sampah tersebutpun harusnya diangkut perkategori. Bukannya ditumpuk diangkut menjadi satu dalam sebuah truk sampah. Pemilahan sampah rumahtangga perkategori akan menjadi sia-sia jika diangkut seperti itu.

Inilah PR bagi pemerintah, untuk menyediakan sarana angkutan sampah perkategori, kemudian menyediakan pula fasilitas pengolahan sampah yang memadai sehingga Bumi Pertiwi menjadi lestari.

Sayangnya akankah ini terjadi sedangkan permasalahan persoalan sampah negeri inipun masih memiriskan hati.

Harapannya dengan sistem pemerintahan yang menjalankan seluruh perintah Allah, termasuk menjaga bumi agar tetap lestari dengan pengolahan sampah yang canggih akan segera terwujud.

Dengan sistem Islam kerumitan membuang sampah akan bisa diatasi. Bumi bersih, kaum muslimah pun akan terjaga kehormatan nya, terjaga dari sikap kecerobohan membuang sampah dengan tidak memakai kostum keluar rumah mereka. Karena dengan sistem ini akan menindak pelaku kemaksiatan dengan tegas. Sekecil apapun kemaksiatan tersebut bisa diminimalisir. Walllahu'alam.

*) Penulis adalah Pengajar dan Member Komunitas Smart With Islam Karawang

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Komentar