Target Indonesia Layak Anak dengan Menerapkan Kuntum Khaira Ummah

Opini - Selasa, 1 Agustus 2023

230801211856-targe.jpeg

Ilustrasi

Oleh Melinda Harumsah, SE*

Peringatan Hari Anak, digelar setiap tahun dengan acara meriah, termasuk pemberian penghargaan Propinsi, Kabupaten dn Kota Layak Anak.

Seperti kota Semarang yang merayakan hari anak, dengan berbagai seremonial dan kemeriahannya.

Diantaranya untuk, memperhatikan perempuan dan anak, anak terlindungi, Indonesia maju, dengan hastag #BeraniKarenaPedulil

Jika kita flashback dari sejarahnya, terkait hari anak nasional, pada tanggal 27 Juli itu ditetapkan pada masa Soeharto, yaitu melalui keputusan presiden nomor 44 tahun 1984, pada saat itu dengan tema "mewujudkan Indonesia ramah dan peduli terhadap anak."

Maka, ukuran dari kota layak anak itu adalah, jika kota-kota itu mampu melaksanakan dengan indikator-indikator tertentu, yang dianggap indikator tersebut, menentukan bagaimana kepedulian kota tersebut pada anak.

Namun, faktanya nasib anak makin memprihatinkan, kenapa bisa terjadi?

Terkait fakta dilapangan, seringkali kita melihat kasus anak, diantaranya ada stunting, kekerasan, termasuk kekerasan seksual, layanan kesehatan, pendidikan, dan masih banyak kasus lainnya.

Ada 6 indikator yang biasa kita lihat :

1. Kelembagaan (yang dimana, didalamnya itu ada keterlibatan antisipasi dari masyarakat)
2. Hak sipil dan kebebasan anak.
3. Hak lingkungan dan pengasuhan alternatif.
4. Hak kesehatan dan kesejahteraan.
5. Hak pendidikan dan kegiatan sosial budaya.
6. Hak perlindungan khusus.

Dari indikator itu semua, akan dijadikan sebagai parameter, apakah suatu kota itu layak anak atau tidak, tapi sejauh mana indikator-indikator ini mampu diwujudkan oleh sebuah kota.

Peringatan HAN tersebut mengingatkan semua orang agar hak anak dapat terpenuhi dengan baik. Sejak dalam kandungan, anak sebenarnya sudah menghadapi berbagai ancaman yakni stunting.

Juga ancaman lainnya saat lahir seperti kekerasan, perkawinan anak, anak berhadapan dengan hukum, dan lainnya.

"Hal tersebut mencerminkan komitmen dan keseriusan para pemimpin daerah dan pemangku kepentingan lain untuk memastikan terwujudnya pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak di wilayah mereka," kata Bintang Puspayoga dalam acara "Penganugerahan Kabupaten/Kota Layak Anak 2023" di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (22/7) malam.

Adapun sejarah mencatat, dari tahun 1184 sampai dengan sekarang, terkisar 39-40 tahun terlewati.

Yang apabila kita melihat indikator-indikator itu, namun faktanya masih banyak disekitar kita.

Apakah penyedia indikator ini, terjadi penurunan atau bahkan sebaliknya?

Menurut data Kemensos, tahun 2021 ada 9113 anak jalanan. Kemudian, penerimaan bansos tahun 2022 ada 140 juta penerimaan, artinya masih banyak masyarakat yang miskin.

Selanjutnya, kekerasan anak tahu 2022 ada 16.105 kasus. Lalu, problem kekerasan seksual sekitar 9.588 kasus.

Subhanallah. Data yang tercatat, membuat kita mengelus dada, belum lagi kasus-kasus yang tidak terdata. Akankah tercapai 2030 dengan target Indonesia layak anak?!

Sementara, dari kasat mata saja, sudah tercatat kasus-kasus tersebut, jangan jauh-jauh, seringkali kita melihat di kota ini, banyak orang-orang pengamen, pedagang asongan, gelandangan dan lain-lain.

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Ketika ada akibat, maka sebab pasti ada, lalu apa sebabnya hal itu terjadi.

1. Adanya Kemiskinan.
2. Disharmonisasi keluarga.

Justru akar-akar ini yang harus diselesaikan! Seperti kemiskinan, padahal jika kita analisis, negeri ini sangat kaya raya. Kenapa tidak merata? Kemudian, faktor keluarga, yang mengakibatkan banyak anak dengan status keluarga yang broken home, sehingga anak banyak dijalanan.

Maka, Islam menangani masalah tersebut, dengan solusi dari hulunya dulu, bukan sekedar mengupas hilirnya saja.

Dan Islam menjamin serta melindungi anak, karena anak adalah calon generasi masa datang.

Adapun sistem Islam memiliki mekanisme yang komprehensif, dalam memberikan jaminan kesejahteraan, juga layanan pendidikan dan kesehatan, serta perlindungan akan keamanan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (TQS. Ali 'Imran 3: Ayat 110)

Sebagaimana Islam menyelesaikan masalah tersebut, tidak dari hilir. Namun, dari hulunya.

Kemudian, apa penyebabnya. Seperti kasus kemiskinan, hingga harmonisasi keluarga.

Karen, di negrri ini masih diterapkan sistem ekonomi kapitalis. Yaitu yang memisahkan agama dari kehidupan, dengan memanfaatkan keuntungan yang sebanyak-banyak nya.

Adanya oligarki yang menguasai negeri ini, yang menghisap Sumber Daya Alam (SDA) kita, untuk keuntungan mereka, sehingga tidak sampai kepada rakyat, padahal sejatinya itu milik rakyat.

Kemudian, terkait persoalan keluarga. Padahal itu bisa diselesaikan dari tata sistem sosial.

Seperti, pergaulan nya, tidak ditata, sering bergaul bebas. Lalu, saat menikah, bisa memenuhi hak dan kewajiban, di dalam keluarga itu, juga dituntun oleh koridor syar'i, kalau kita punya anak dibekali dengan parenting pengetahuan, bagaimana kewajiban terhadap anak.

Oleh karena itu, perlu dibekali dengan cara mendidik anak. Maka jelas, ini butuh sekali penataan, bahkan perombakan sistem.

Supaya tidak bicara soal hilir saja, tapi bicara tentang hulunya. Maka, dengan begitu negara tidak terlalu pusing di dalam masalah hilir.

Sehingga, kemiskinan akan berkurang. Lalu, faktor keluarga bisa sejahtera. Tidak lain ini harus menerapkan sistem Islam yang kaffah, atau sistem Islam yang menyeluruh, dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan. Tentu, ini perlu adanya institusi daulah khilafah. Walahu'alam.***

Penulis/Pewarta: Penulis Lepas
Editor: Ibnu
©PRIANGANPOS.COM 2023