221112202126-pemud.jpeg

(Foto: ilustrasi)

Pemuda Saatnya Melek Politik, Ambil Peran Membangun Peradaban Islam

Oleh Yuyun Suminah, A. Md*

Pemuda adalah harapan bangsa, dipundaknya kepemimpinan negeri ini diteruskan. Maka pemuda tak semestinya cuek terhadap perpolitikan yang ada di negeri ini. Bagaimana bisa meneruskan bangsa ini jika pemudanya tidak paham politik. Mereka harus mengetahui politik yang sebenarnya.

Hal ini disampaikan oleh wakil Gebernur yang akrab disapa Kang Uu meminta para pelajar sebagai penerus bangsa untuk ikut berpartisipasi dalam politik. Tugas pelajar dinilai bukan sekadar belajar untuk masa depan sendiri, melainkan juga harus berguna untuk masyarakat luas.

"Jangan hanya berpikir menjadi pegawai, hanya berpikir untuk pribadi. Kalau jadi politisi, bisa membuat kebijakan," kata dia.

Untuk menumbuhkan minat pemuda dalam dunia politik Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Barat menggelar Animatik Award atau lomba video animasi politik se-Indonesia.

Langkah itu dilakukan untuk menarik minat anak muda dalam berpolitik dan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu.

Namun, politik yang seperti apa yang harus para pemuda ketahui, apalagi pemuda yang beragama Islam perlu menyadari letak kerusakan politik yang rusak saat dimana pemuda dipandang apriori terhadap politik, selama ini sebagian pemuda hanya mengetahui politik itu identik dengan kekuasaan, jabatan dan kebijakan.

Jika ada kerusakan seperti korupsi dan lainnya tinggal diperbaiki saja individunya, selain memang itu kesalahan individunya seharusnya korupsi bisa diselesaikan, namun kenyataannya terus berulang. Berarti ada faktor lain yang memberikan celah individu bebas melakukan korupsi.

Kenyataannya saat ini seperti itu dalam sistem kapitalisme korupsi seperti jamur dimusim hujan, menjamur dari level atas sampai level bawah. Dari fakta tersebut sebuah sistem bisa membentuk individu melakukan penyelewengan, jika pun dihukum yang tidak memberikan efek jera. Tidak ada rasa takut, apalagi merasa berdosa dihadapan Allah, sudah merugikan negara dan rakyat. Di penjara pun dengan fasillitas yang nyaman.

Wajar seperti itu karena sistem kapitalisme yang memisahkan peran agama dari kehidupan. Namum berbeda dalam sistem Islam sebuah aturan yang lahir dari Sang Pencipta, peran agama selalu terdepan dalam standar perbuatan manusia apapun termasuk berpolitik. Dalam pandangan Islam politik adalah mengurusi urusan umat

Akan ada pengaturan ranah mana saja yang ditempati oleh muslim dan nonmuslim, termasuk kebijakan yang akan dibuat semua standarnya hukum syara. Halal dan haram bukan melihat asas manfaat. Tidak akan diambil kebijakan tersebut walaupun bermanfaat jika malanggar syariat. Hal itu akan ditinggalkan.

Akan jelas yang haram dan halal, yang benar dan salah. Jika pemuda melek politik seperti itu maka mereka tidak akan takut terjun ke dunia politik. Seperti kisah para pemuda Ashabulkahfi. Bagaimana para pemuda tersebut memegang teguh pendirian agamanya, memegang prinsif kebenaran.

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhannya, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS Al-Kahfi [18]: 13).

Wallahua'lam

*) Penulis adalah Seorang Guru dan Pegiat Literasi tinggal di Bandung

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Komentar