Guru Hebat, Indonesia Kuat: Menghadirkan Generasi Emas 2045 melalui Sains Berbasis Keberlanjutan

251125200313-guru-.jpeg

(Foto: Istimewa)

Oleh M. Dodi Rusli*

Pilar Pendidikan Menuju Indonesia Emas

Setiap tanggal 25 November, kita diingatkan kembali bahwa Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) adalah pilar utama yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa. Dengan tema "Guru Hebat, Indonesia Kuat", Hari Guru Nasional 2025 mengajak kita untuk tidak sekadar memberikan apresiasi, tetapi juga meneguhkan kembali komitmen bahwa kekuatan suatu bangsa bermula dari keteladanan, inovasi, dan dampak yang dihadirkan oleh para pendidik.

Profesionalisme guru bukan lagi sekadar tuntutan, melainkan sebuah prasyarat untuk melahirkan Generasi Emas Indonesia 2045. Generasi ini membutuhkan guru yang tidak hanya menyampaikan materi di kelas, tetapi juga hadir sebagai pendamping yang menginspirasi, mendidik karakter, dan memastikan setiap anak bangsa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berani menghadapi tantangan zaman. Dalam konteks inilah, pembaruan sistem dan metode pendidikan menjadi langkah awal yang tak terhindarkan dalam membangun peradaban yang unggul, sejalan dengan Visi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen): Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Pendidikan, sebagai harapan besar untuk merancang masa depan berkelanjutan yang lebih baik, kini dihadapkan pada satu pendekatan berbasis keberlanjutan: Education for Sustainable Development (ESD) atau Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Disrupsi dan VUCA: Tantangan dan Peluang Guru Hebat

Saat ini, kita berada di era disrupsi, era dimana kita akan banyak sekali menghadapi gangguan dan perubahan. Profesor Rhenald Kasali, seorang pakar dalam bidang manajemen dan seorang yang banyak membahas mengenai disrupsi khususnya di Indonesia, memandang bahwa disrupsi ini sebagai peluang bagi kita untuk melakukan inovasi-inovasi. Beliau menyampaikan bahwa era disrupsi ini adalah abad inovasi, karena tanpa ada disrupsi, inovasi itu tidak akan terjadi. Maka oleh karena itu, disrupsi adalah inovasi, inovasi ini yang nantinya akan menggantikan seluruh sistem yang lama dengan sistem yang baru.

Era disrupsi diperlihatkan dengan gejala-gejala yang kita sebut juga dengan fenomena VUCA yang merupakan singkatan dari Volatility (volatilitas), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas). Bagi seorang Guru Hebat, disrupsi bukanlah ancaman, melainkan peluang. Guru dituntut untuk mengadopsi budaya kerja RAMAH (Responsif, Akuntabel, Melayani, Adaptif, dan Harmonis) dalam menghadirkan layanan pendidikan.

Fenomena VUCA ini harus dihadapi dengan strategi VUCA yang berbeda:

• Volatility (kemudahberubahan) dihadapi dengan Vision (visi) yang jelas.
• Uncertainty (ketidakpastian) diatasi dengan Understanding (pemahaman, empati, kepekaan).
• Complexity (kerumitan) dijawab dengan Clarity (kejelasan), yaitu kemampuan menyiapkan sebanyak mungkin opsi atau rekomendasi.
• Ambiguity (ambiguitas) ditaklukkan dengan Agility (kelincahan, kerja keras, dan kemauan belajar).

Dampak positif dari era ini adalah tuntutan bahwa guru tidak lagi cukup dengan monoliterasi (seperti literasi sains saja), tetapi harus bergerak menuju multiliterasi. Guru sains, misalnya, tidak hanya memahami sains, tetapi juga harus memiliki kapasitas dalam literasi membaca, berhitung, teknologi, kemanusiaan, hukum, social dan ekonomi. Inilah yang menjadi tantangan bagi para guru agar selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Education for Sustainable Development (ESD): Memandu Sains Menjadi Multiliterasi yang Berdampak

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) adalah pendidikan yang mendorong masyarakat untuk secara konstruktif dan kreatif dapat menghadapi tantangan global, serta menciptakan masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan.

Melalui pembelajaran ESD, murid tidak hanya belajar tentang bagaimana sains digunakan untuk membangun teknologi, tetapi harus lebih jauh membangun kesadaran serta keterampilan tentang bagaimana membangun teknologi tanpa mengabaikan lingkungan hidup, kehidupan bermasyarakat, serta kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) dapat diintegrasikan dalam pembelajaran IPA/sains melalui berbagai cara, baik melalui perangkat, media, maupun model dan media pembelajaran.

Intinya, esensi ESD adalah membangun kesadaran publik tentang hidup berkelanjutan. Murid didorong untuk berpikir visioner dan tidak lagi berpikir parsial, misalnya tidak lagi berpikir bahwa menggunakan air secara berlebihan diperbolehkan karena telah membayar, tetapi menyadari dampaknya bagi generasi yang akan datang. Cara berpikir seperti inilah yang harus dibangun.

Sains 3 Dimensi: Lingkungan, Ekonomi, dan Sosial

Pembelajaran sains yang berbasis ESD adalah pembelajaran sains yang dikemas secara terintegrasi. Mempelajari sains dengan konteks ESD memastikan bahwa sains diintegrasikan pada kajian tiga dimensi vital: lingkungan, ekonomi, dan sosial. Literasi sains bukan bermakna hanya dapat menyelesaikan soal-soal sains saja, tetapi dapat menyelesaikan permasalahan kehidupan dengan cara-cara sains, yaitu dengan perbuatannya atau aksinya.

Sebagai contoh, dalam pembahasan gizi dan nutrisi, guru tidak boleh terputus hanya pada fungsi karbohidrat dan protein secara biologis saja. Para murid jangan hanya belajar bahwa protein itu bagus untuk membangun tubuh, kemudian karbohidrat itu bagus untuk kalori, jadi kalo makan itu harus sesuaikan kalori, jadi nanti ada pendapat orang yang mengatakan, jika begitu kita tidak perlu makan sayur, karena sayur tidak berkalori, nah jika bahasan tersebut terputus sampai disitu saja dan ini diajarkan kepada para murid, nanti murid akan tersesat dalam pelajaran yang mereka pelajari.

Sehingga harus dibahas secara tuntas, kenapa tidak makan sayuran? Padahal sayuran itu dibutuhkan vitamin dan mineralnya, supaya apa ? supaya proses pencernaannya terjadi, berapapun karbohidrat yang dimakan, jika tidak ada vitamin atau mineral, tidak akan menjadi energi bagi tubuh manusia. Berapa banyaknya pun protein yang dimakan jika tidak ada mineral dan vitamin, tidak akan terbentuk asam-asam amino untuk membangun perkembangan otak kita, jadi pembelajaran sains hari ini harus selalu dipadukan dengan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Studi Kasus Energi dan Polusi

Murid diajak berpikir futuristik: Apa yang terjadi jika mereka berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi? Murid akan menghitung kerugian dan keuntungan dari aspek polusi (lingkungan), ekonomi, dan sosial. Murid akan mampu memilih dan menentukan sikap atas suatu aktivitas dalam kehidupan secara bijak berdasarkan pengetahuannya.

ESD membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab terhadap ketiga dimensi keberlanjutan tersebut. Implementasi ESD juga terbukti dapat meningkatkan:

• Penguasaan Konsep dan Hasil Belajar Kognitif: Karena murid diminta melakukan evaluasi diri.
• Keterampilan Berpikir Kritis: Karena murid dituntut merumuskan masalah dan mencari alternatif solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) sebagai Wujud Nyata Guru Hebat

Proses pembelajaran harus mendorong terciptanya pembentukan akhlak, peningkatan keimanan, serta desain berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam pemecahan masalah. Inti dari ESD adalah melatih para murid belajar sains, belajar berpikir, belajar bersikap, kemudian menyelaraskannya dengan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.

Dalam semangat Hari Guru Nasional 2025 bertema "Guru Hebat, Indonesia Kuat", ESD menjadi perwujudan konkret dari profesionalisme guru yang berdampak nyata. Guru yang mengajar dengan basis ESD adalah guru yang:

1) Inovatif: Mampu mengemas pembelajaran sains yang terintegrasi (multiliterasi).
2) Berdampak Nyata: Mendidik murid untuk bertanggung jawab pada lingkungan dan sosial, melebihi sekadar nilai akademik.
3) Membentuk Generasi Emas: Melahirkan anak-anak bangsa yang tangguh dan memiliki visi jelas di tengah ketidakpastian zaman.

Melalui inovasi seperti ESD, guru telah meletakkan fondasi kuat bagi peradaban unggul. Komitmen, dedikasi, dan teladan para guru dalam menghadirkan praktik terbaik inilah yang pada akhirnya akan memperkokoh ekosistem pendidikan bermutu, memastikan cita-cita Indonesia Kuat melalui Generasi Emas 2045, dapat digapai.

Akhirnya, esai ini adalah sebuah refleksi yang menegaskan bahwa inovasi guru adalah penentu masa depan. Seluruh upaya yang dilakukan di ruang-ruang kelas adalah dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia terbaik. Sebagaimana pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., dalam Upacara Hari Guru Nasional 2025: "Ditanganmu, kualitas sumber daya manusia, masa depan bangsa dan negara". Pesan ini bukan sekadar kalimat penutup, melainkan sebuah pernyataan amanah bagi setiap guru di Indonesia. 

*) Penulis adalah Sekretaris LAZ Assyifa Peduli & Mahasiswa Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan Universitas Winaya Mukti

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Komentar