Bom Bunuh Diri, Momentum Deradikalisasi atau Momentum Perubahan

221219164558-bom-b.jpg

(Foto: Dok/Priangan Pos)

Oleh Meri Mulyani, S.Si

Tragedi bom bunuh diri kembali terjadi pada Rabu (7/12/2022) di Mapolsek Astananyar, Kota Bandung, Jawa Barat. Pelakunya merupakan salah seorang mantan narapidana kasus bom Cicendo Jabar yang telah dihukum empat tahun di Nusakambangan dan dibebaskan pada September 2021. Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI), Muhammad Najih Arromadloni (Gus Najih) mengatakan bahwa aksi bom bunuh diri itu merupakan momentum bagi pemerintah untuk mengkaji ulang program deradikalisasi. (NU online, 10 Desember 2022)

Opini terorisme yang sudah sering diulang-ulang ini bisa jadi membuat masyarakat ketakutan. Masif digalakkan ke tengah masyarakat bahwa aksi kekerasan disebabkan oleh radikalisme yang harus dihalau dengan deradikalisasi ke semua kalangan. Definisi radikal pun sangat subjektif karena berdasar kepada persepsi dan kepentingan rezim. Padahal arti 'radikal' secara bahasa berarti 'mengakar' yang seharusnya berkonotasi positif. Allah swt telah memerintahkan manusia untuk berakidah Islam yang kokoh dan mengakar sehingga taat terhadap semua aturan Islam, namun bagi rezim hal ini bisa jadi dituding radikalis.

Karena upaya peyorasi, radikal jadi dipandang negatif. Hal ini juga menunjukkan bahwa perjuangan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan menegakkan khilafah adalah termasuk gerakan radikal yang rezim anggap berbahaya. Di sini lah akal manusia diuji Allah swt, apakah manusia bisa menemukan kebenaran dengan proses berpikir yang mendalam dan menyeluruh, atau kah hanya berpikir dangkal dan mau menerima doktrin yang sarat kepentingan suatu kelompok.

Deradikalisasi adalah suatu bukti bahwa sistem kapitalisme ini abai akan akidah umatnya. Tragedi bom bunuh diri ini seharusnya bukan momentum untuk semakin mengefektifkan deradikalisasi, tapi harus menjadi renungan dan kajian,  apakah benar sistem Islam dari Allah swt yang bersifat intoleran dan kekerasan? ataukah di sistem kapitalisme ini lah justru kita temui banyak kekerasan, kriminal, intoleran dan fitnah terhadap Islam? Semoga tidak terjadi lagi tragedi seperti ini dan menjadi momentum perubahan ke arah yang lebih baik, menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk segera bersama menegakkan khilafah yang mengikuti metode Rasulullah saw yang memberikan rahmat bagi seluruh alam.***

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial tinggal di Kabupaten Bandung

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:

Komentar