Politik Islam: Mengurus Urusan Masyarakat

Penulis (Foto: Istimewa)
Oleh Nur Illah Kiftiah Khaerani*
Islam bukan hanya agama ritual melainkan memiliki tatanan yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana yang dikemukakan H. Eep Jamaludin Sukmana, salah seorang pemuka Agama Islam Kab. Bandung sekaligus ketua Fraksi PAN DPRD Kabupaten Bandung, bahwa politik dalam Islam disebut Siyasah, yang berorientasi mengatur segenap urusan umat. Untuk itu Islam menekankan penting nya siyasah dan mencela setiap sikap yang tidak mau tahu urusan umat. Juga Islam memandang kekuasaan dengan istilah lain adalah penguasa sebagai sarana menyempurnakan pengabdian kepada Allah SWT, semua tidak bisa memungkiri kalau di dunia nyata terkadang disuguhkan praktik politik yang kurang, bahkan sama sekali menyimpang dari ajaran-ajaran agama. Lajutnya, Islam terbuka dengan konsep politik yang telah berjalan selama ini, selama sepanjang tidak bertentangan dengan konsep ajaran, aturan-aturan yang dilarang oleh agama. (bedanews.com)
Dari pemaparan di atas, kita harus memahami tentang konsep politik islam yang benar. Bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan baik urusan keluarga, tata kemasyarakatan, prinsip pemerintahan dan hubungan internasional. Karena Islam dan politik adalah dua hal yang integral, tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara, sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja, namun mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kedzaliman oleh penguasa.
Jadi politik itu bermakna mengurusi urusan masyarakat. Jika disematkan dengan Islam, berarti pengurusan/pengaturan berbagai urusan rakyat sesuai dengan ketentuan Islam. Sebaliknya jika urusannya di atur atau dipelihara sesuai dengan kehendak manusia, bukan aturan dari Allah SWT, berarti bukan politik Islam, tetapi politik dalam perspektif sekularisme.
Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh bahwa dalam sejarah perjuangan para sahabat terdapat bukti-bukti yang menunjukan bahwasanya Islam memiliki otoritas politik. Salah satu yang menjadi bukti sejarah perpolitikan di pada masa itu ketika mengangkat seorang Khalifah yaitu mengangkat seorang pemimpin kaum muslimin.
Oleh karena itu memilih pemimpin adalah perkara yang penting. Karena dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah dari Allah SWT, dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya di akhirat. Sebagaimana Ibnu Umar ra. dari Nabi SAW bersabda " setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya, seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. (H.R Bukhari dan Muslim).
Islam memandang tidak sekedar sampai pada terpilihnya seorang pemimpin, dan tidak sekadar memilih pemimpin yang saleh lagi taat beribadah. Namun syarat seorang pemimpin yakni melaksanakan aturan-aturan Islam saja dalam seluruh pemeliharaan urusan rakyat, yang seluruhnya berlandaskan akidah Islam.
wallahu'alam bi shawab.
*) Penulis adalah Guru tinggal di Bandung
Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.