Oleh Prita Widya Putri*

Belum lama ini diselenggarakan kegiatan Penampilan Kreasi Seni Lengser dan Jaipong di Kabupaten Bandung yang diinisiasi oleh Pemuda Mahasiswa Nusantara (PNM). Kegiatan itu dimaksudkan sebagai upaya untuk merangkul generasi muda agar tetap peduli terhadap seni dan budaya sebagaimana yang disampaikan oleh koordinator PNM wilayah Jawa Barat, Marsus Albar.

Kurangnya perhatian pemuda terhadap seni dan budaya juga ditunjukkan sebagaimana data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) tahun 2019 Jawa Barat yang berada di urutan ke 20 dari 34 Provinsi di Indonesia.(Kumparan.com, 21/3/2023)

Harapannya dengan terselenggaranya kegiatan tersebut mampu memunculkan minat dan ketertarikan pemuda pada kesenian khas Jawa Barat dan mampu meningkatkan IPP Jawa Barat yang semakin menurun.

Kata Pemuda menurut Taufik Abdullah (1974), adalah generasi baru dalam sebuah komunitas masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Sedangkan menurut literatur arab

Pemuda secara bahasa disebut dengan as-Syâbb yang berarti al-Fatâ’ yakni kemudaan, awal dari sesuatu dan menyalakan.

Dan apabila disusun dengan kata al-Islam maka menjadi asy-Syâbb al-Islâm (Pemuda Islam) yang akan menjadi definisi baru dan bermakna lain dari segi bahasanya, yakni Pemuda Islam adalah pemuda yang memiliki standar pada sandaran Islam dalam segala aspek pengaturan kehidupannya.

Dengan kata lain Pemuda Islam adalah Pemuda yang memiliki kepribadian Islam (asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah).

Berdasarkan makna bahasa diatas, dapat dipahami bahwa pemuda sudah seyogyanya memberikan energi dan kapasitasnya kepada hal-hal yang menjadi perubahan pada kebaikan.

Namun, pemuda hari ini agaknya telah disibukkan dengan penggunaan gawai yang melenakan, belum lagi dengan berbagai benturan problematika kehidupan yakni angka putus sekolah dan angka harapan hidup.

Menilisik sejarah kepemudaan didalam Islam, pemuda adalah penggerak perubahan yang hakiki, sebagaimana Al Fatih di usia mudanya yang mampu menjadi komando terbaik sepanjang sejarah perjuangan Islam dengan merontokkan tembok megah konstantinopel. Tentunya merancang dan membangkitkan pemuda sekelas Al Fatih bukanlah pekerjaan satu malam, perlu proses panjang bahkan dari pola pengasuhan, pola pendidikan hingga pola sistem aturan bernegara yang mendukung pada kebangkitan pemuda.

Karena membangkitkan pemuda bukan hanya sekedar memberikan kegiatan yang menarik minatnya saja apalagi sifatnya yang sementara dan mudah berubah seiring waktu, namun berbicara pemuda adalah bagaimana membangkitkan pemikirannya pada cita-cita besar untuk terus melanjutkan kehidupan Islam. Karena suatu kebaikan tidak hanya dilihat sebagai kebaikannya saja namun harus sesuai dengan keridhoan dan ketaatan pada Sang Pemberi kehidupan yaitu Allah SWT. Maka benar adanya bahwa kebangkitan pemuda yang hakiki tersebut hanya dapat direalisasikan apabila negara ini menerapkan Islam secara kaffah, yang nantinya mampu menggiring kembali pemuda pada kebaikan dan perubahan yang hakiki. Wallahu'alam bisshowab. ***

*) Penulis adalah seorang Mompreneur, tinggal di  Bojongsoang Kab. Bandung