Memajukan Perekonomian Umat, Tanggung Jawab Siapa?

230630160148-memaj.jpg

(Ilustrasi: beritasatu.com)

Oleh Nur Illah Kiftiah Khaerani*

Bank emok atau rentenir menjadi persoalan yang menjerat masyarakat ekonomi lemah. Untuk melawan Bank emok, badan pengelola Keuangan Haji (BPKH) menyalurkan bantuan program kemandirian ekonomi umat berbasis pesantren senilai Rp 3,3 M. Bantuan itu disalurkan secara simbolis oleh wakil Ketua VIII DPR Tubagus Ace Hasan Syadzily. Program bantuan ekonomi berbasis pesantren ini bertujuan mendorong kemandirian umat. Ungkapannya “ Umat harus berdaya secara ekonomi. Itu dimulai dengan cara memberdayakan kemandirian pondok pesantren. Sehingga diharapkan masyarakat tidak terjerat bank emok, serta menjadi bagian yang mendorong pesantren menjadi pusat pemberdayaan masyarakat agar membangun kemandirian. (iNewsJabar.id)

Pada dasarnya, fungsi dan tujuan pondok pesantren adalah sebagai tempat menimba ilmu agama, mendalami Islam untuk mendakwahkan kembali kepada masyarakat, pondok pesantren adalah tempat mencetak generasi yang unggul sebagai penerus peradaban, juga berkontribusi mencerdaskan umat dalam dakwah. Namun sayangnya, dalam sistem kapitalisme, semua hanya dipandang sebagai lahan bisnis yang dipoles dengan berbagai cara. Salah satunya dengan peta jalan pesantren mandiri yakni program kemandirian ekonomi umat berbasis pesantren. Tujuannya supaya pesantren bisa menjadi Lembaga yang mandiri dan berdaya secara ekonomi. Ketika dipahami secara mendalam, program tersebut terlihat bagus dan benar, serta sangat baik untuk memajukan ekonomi di tengah masyarakat. Namun sesungguhnya program itu telah menggeser posisi pesantren dari tujuan utamanya, yaitu mencetak ulama dan generasi muda Islam yang cemerlang.

Sudah tidak aneh jika sistem kapitalisme yang diterapkan itu memang hanya berorientasi materi semata, yaitu menjadikan pesantren mandiri adalah sebagai ajang bisnis semata. Secara tidak langsung, program unit usaha akan mengerdilkan fungsi pesantren itu sendiri. Sayangnya, banyak pendiri pesantren yang belum peka akan hal itu. Mereka tidak sadar bahwa ada misi terselubung yang berimbas pada nilai kemurnian pesantren itu sendiri.
Pengarusan program tersebut akan menggiring para santri dan jajarannya menjadi penggerak untuk meningkatkan perekonomian rakyat yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Negara seakan lepas tangan dan memanfaatkan pondok pesantren untuk ikut andil dalam rangka membantu masyarakat yang sedang karut marut. Akhirnya pondok pesantren terjebak oleh sistem kapitalisme yang sejatinya rusak dan merusak, yaitu dengan terseretnya mereka kedalam arahan arus program tersebut. Serta sistem kapitalisme saat ini, tidak menjamin bahwa Ketika keluar dari pondok, para santri akan menjadi ulama yang fakih fiddin. Karena sistem ini mengabaikan syariat, islam bukan menjadi rujukan.

Dengan begitu sistem ini akan melahirkan ulama mandul, tidak mampu mencerdaskan umat dan memajukan bangsa karena sistem pendidikannya sekuler.

Dalam Islam, dalam memajukan perekonomian murni tanggung jawab negara. Para santri hanya focus mempelajari ilmu tanpa harus memikirkan masalah-masalah lainnya. Santri belajar Islam secara menyeluruh mulai dari akidah hingga syariat, termasuk ilmu ekonomi Islam dan politik Islam. Dengan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh, diharapkan pesantren bisa melahirkan ulama sebagai agen perubahan dan kemajuan bangsa dan negara. Dan mengembalikan fungsi pesantren sebagai tempat menuntut ilmu Islam dan berkontribusi dalam dakwah yang menyeluruh, bukan sebagai program kemandirian umat dengan unit usaha seperti yang diaruskan saat ini.

Wallahu’alam Bi Shawab

*) Penulis adalah seorang Guru tinggal di Bandung

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:

Komentar