Terulang Kembali Pembakaran Al-Quran di Swedia; Dimana Keadilan Negara?

230711154916-terul.jpeg

(Foto: Istimewa)

Oleh Melinda Harumsah, S.E*

Al-qur'an kitab suci umat Islam di dalamnya menjadi panduan hidup bagi umat muslim, tak hanya dituntut bisa membacanya, memahami namun juga menjaganya.

Menjaganya dari pelecehan, menghina dan lainnya namun penghinaan terhadap Al-quran terus berulang.

Seperti kejadian pembakaran Al Quran di Swedia bukanlah kali pertama. Terulangnya kasus tersebut menjadi bukti bahwa Pemerintah Swedia belum bertindak serius menanganinya, meskipun telah mendapat kecaman dan peringatan dari negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Pembakaran Al Quran, bukan saja menyangkut umat Islam minoritas di Swedia, melainkan juga menyangkut seluruh muslim di dunia.

Aksi pembakaran Al Quran kembali terjadi di Swedia dan kali ini dilakukan oleh seorang warga Irak bernama Salwan Momika.

Momika merobek beberapa halaman salinan Al Quran dan membakarnya dengan tujuan mengkritik Islam, mengenalkan diri sebagai ateis sekuler di media sosial.

Dia juga memuji politisi sayap kanan Swedia, Rasmus Paludan, yang sebelumnya juga melakukan aksi pembakaran kitab suci umat Islam tersebut.

Menurut Momika, Islam adalah ancaman terhadap nilai-nilai Swedia.

Insiden itu juga memicu kemarahan di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya termasuk Turki - anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization, yang dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara.

NATO kerap juga dikenal sebagai Aliansi Atlantik Utara). NATO merupakan organisasi militer internasional yang bertujuan untuk keamanan bersama para anggotanya yang memiliki hak yang menentukan Swedia untuk menjadi anggota NATO.

Turki - yang juga marah dengan protes pembakaran Al-Qur'an awal tahun ini - mengatakan "tidak bisa diterima" untuk membiarkan "tindakan anti-Islam" semacam itu terjadi "dengan dalih kebebasan berekspresi".

Presiden Recep Tayyib Erdogan berkata: "Kami pada akhirnya akan mengajari orang Barat yang arogan bahwa menghina Muslim bukanlah kebebasan berpikir".

Negara-negara Timur Tengah termasuk Irak, Iran, Arab Saudi, dan Mesir mengecam keras pembakaran tersebut.

Irak mengatakan insiden itu adalah "cerminan dari semangat agresif penuh kebencian yang tidak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi".

Iran menyuarakan kritik Irak dan menyebut tindakan membakar Al-Qur'an "provokatif" dan "tidak dapat diterima". Sementara Mesir menggambarkannya sebagai tindakan "memalukan" yang sangat provokatif saat umat Islam memperingati Idul Adha.

Arab Saudi - negara tempat sekitar 1,8 juta jemaah berhaji pada pekan ini - mengatakan "tindakan kebencian dan berulang ini tidak bisa diterima dengan alasan pembenaran apapun."

Adapun Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson mengatakan pembakaran Al-Qur'an itu "legal tapi tidak pantas".

Aksi membakar Al-Qur'an telah memicu kerusuhan di Swedia dalam beberapa bulan terakhir.

"Apabila Pemerintah Swedia tidak merespons kecaman dari berbagai negara, termasuk Indonesia, maka dengan sendirinya kepercayaan internasional akan merosot," kata Sudarnoto dilansir dari situs resmi mui.or.id, Jumat, 30 Juni 2023.

Mereka tidak hanya rasis tetapi juga mempromosikan kekerasan dan kebencian. Tindakan tidak bertanggung jawab ini, yang bertentangan langsung dengan nilai-nilai penghormatan terhadap keragaman dan kepercayaan orang lain, sangat terkutuk."

Lebih jauh Kementerian Luar Negeri Indonesia lewat Twitter mengatakan “tindakan itu sangat mencederai perasaan umat Muslim dan tidak dapat dibenarkan.”

Kementerian Luar Negeri Indonesia menggarisbawahi bahwa “kebebasan berekspresi harus pula menghormati nilai dan kepercayaan agama lain.” Ditegaskan bahwa “Indonesia bersama negara anggota OKI (organisasi kerja sama Islam) di Swedia telah menyampaikan protes atas kejadian ini.”

Turki, Maroko dan Irak Kecam Swedia
Sejumlah pejabat Turki mengutuk keputusan pihak berwenang Swedia mengizinkan tindakan menginjak-injak dan membakar Al-Qur'an itu. Hal ini dinilai dapat semakin mengancam upaya Swedia bergabung dengan NATO sebelum pertemuan puncak blok itu bulan Juli nanti.

Turki telah menolak menandatangani aplikasi Swedia untuk bergabung dengan aliansi trans-Atlantik itu, menuduh Swedia bersikap terlalu lunak terhadap kelompok yang nilai menimbulkan ancaman keamanan, termasuk kelompok militan Kurdi (kelompok etnis di timur tengah).

"Tindakan baru yang ofensif dan tidak bertanggung jawab ini mengabaikan perasaan lebih dari satu miliar Muslim, pada waktu kegiatan ibadah haji di Makkah dan pada hari raya Idul Adha yang penuh berkah," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Menghadapi provokasi berulang ini, yang dilakukan di bawah pengawasan pemerintah Swedia, Maroko memanggil kuasa usaha Swedia di Rabat dan menarik duta besarnya," tambahnya.

Pada bulan Januari, seorang ekstremis sayap kanan Swedia-Denmark membakar Al-Qur'an di dekat kedutaan Turki di Stockholm, yang juga memicu kemarahan di dunia Muslim.

"Ketua Dewan Peradilan Tertinggi, Faiq Zidan, memerintahkan kembalinya Salwan Momika, yang dikatakan berasal dari Irak, agar dia dapat diadili sesuai dengan hukum Irak," kata laporan media setempat seperti dikutip dari New Arab, Sabtu (1/7/2023).

Kementerian Luar Negeri Irak telah memanggil duta besar Swedia atas pembakaran itu, menurut pernyataan yang dibagikan di Twitter. Kementerian itu mengutuk izin pemerintah Swedia bagi para ekstremis untuk membakar salinan al-Quran, bunyi pernyataan itu.

Pemimpin Gerakan Sadr Irak, Muqtada Al-Sadr, meminta para pendukungnya pada hari Rabu untuk berpartisipasi dalam demonstrasi kemarahan besar-besaran terhadap kedutaan Swedia di Ibu Kota, Baghdad.

Dia menuntut agar pemerintah federal mengusir kuasa hukum Swedia sebagai protes, menurut pernyataan yang dibagikan di halaman Twitter resminya.

Sadr juga menyerukan pengusiran duta besar Swedia, yang mewakili negara yang memusuhi Islam dan kesuciannya serta mendukung ketidaksenonohan.

Betapa Lemahnya Negeri Islam

Akar dari aksi tersebut, bahwa dunia Islam mengecam. Adapun, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengutuk pembakaran Al-Qur’an dan menyebutnya sebagai tindakan keji dan tercela. Kemudian, Maroko juga mengutuk tindakan Momika dengan memanggil perwakilan Swedia di Rabat dan meminta duta besarnya keluar dari Maroko.

Yordania menyatakan ketaksenangannya dengan Swedia dengan menyebutnya sebagai tindakan rasis kebencian yang serius. Begitu pula dengan negara Arab dan negeri muslim lainnya. Mesir, Arab Saudi, Turki, Malaysia, dan Indonesia ikut mengecam dan mengutuk aksi pembakaran Al-Qur’an.

Kini respons umat Islam dan para pemimpin negeri Islam, ini sebenarnya menunjukkan betapa lemahnya negeri-negeri muslim di hadapan Barat.

Setiap kali ada penistaan, penghinaan, dan pelecehan terhadap Islam, para pemimpin negeri muslim hanya sekedar marah, tersinggung, mengecam, dan mengutuk secara diplomatis. Tidak ada tindakan tegas setelah itu.

Sehingga pembelaan terhadap Al-Qur’an yang sebatas pernyataan lisan juga mengindikasikan bahwa negeri-negeri Islam ibarat badan tanpa kepala. Jumlahnya banyak, tetapi tidak berdaya karena tidak adanya kepemimpinan tunggal yang mengayomi, melindungi, dan menjaga kehormatan serta kemuliaan Islam dan kaum muslim.

Kini negeri-negeri muslim tersekat oleh nation-state. Konsep negara bangsa telah mengoyak persatuan kaum muslimin.

Kalaulah umat bersatu menunjukkan amarahnya, itu pun sesaat dan akan berlalu begitu saja.

Akhirnya, penistaan terhadap Islam terus berulang dan para pembenci Islam akan terus berulah. Umat Islam bagaikan buih di lautan.

Sangat banyak, tetapi tidak memiliki pengaruh di mata internasional. Bahkan, negeri Islam cenderung menjadi negara pengekor kepentingan Barat. Gelar “khairu ummah” (umat terbaik) seakan hilang seiring merenggangnya ikatan akidah Islam yang menjadi spirit persatuan umat Islam.

Berdalih Demokrasi

Negeri barat benar-benar bermuka dua. Di satu sisi teriak toleransi, di sisi lain penistaan terhadap Islam dibiarkan terjadi. Mereka koar-koar tentang kebebasan, tetapi kerap melakukan diskriminasi dan intoleran terhadap Islam dan pemeluknya.

Katanya kebebasan beragama, nyatanya ilIslamofobia di Barat malah merajalela.

Katanya kebebasan berbicara, nyatanya hanya topeng untuk melegalkan pelecehan terhadap agama. Katanya kebebasan berpendapat, nyatanya kecaman dan kutukan umat tidak berarti apa-apa. Miris, ya, sangat miris! Kemana keadilan pemimpin?

Seperti itulah hipokrisi Barat. Demokrasi hanya kamuflase dan dalih pembenaran atas penistaan yang dilakukan.
Demokrasi juga ibarat tong kosong nyaring bunyinya.

Penerapannya tidak seindah teorinya. Teorinya omong kosong, praktiknya nol.

Sikap Barat akan sangat berbeda seandainya umat Islam menghina agama non-Islam.

Narasi radikalisme dan terorisme pasti menggema secara internasional, seakan menganggap hanya Islam agama radikal, yang lainnya tidak.

Sungguh, penistaan terhadap Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan kecaman atau kutukan.

Para penista itu akan terus bermunculan dengan ragam perilaku dan pelaku yang berbeda.

Maka akan ada Ramulus dan Momika lainnya selama Islam tidak memiliki kepemimpinan tunggal, yaitu Khilafah yang mampu mengerahkan pasukan kaum muslim untuk menindak tegas mereka.

Betapa mendesak dan pentingnya kebutuhan akan hadirnya negara yang mampu menyatukan umat di bawah satu komando kepemimpinan khalifah.

Tegaknya khilafah, Solusi Penjaga Kemuliaan Islam

Dalam Islam, agama adalah sesuatu yang wajib dijaga dan dimuliakan.

Salah satu tujuan diterapkannya syariat Islam adalah memelihara dan melindungi agama.

Ketegasan Islam terhadap penista bisa kita lihat dari sikap Khalifah Abdul Hamid saat merespons pelecehan kepada Rasulullah saw..

Saat itu, beliau memanggil duta besar Prancis meminta penjelasan atas niat Prancis yang akan menggelar teater yang melecehkan Nabi saw.. Beliau berkata begini pada duta Prancis, “Akulah Khalifah umat Islam, Abdul Hamid! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!”

Itulah sikap pemimpin kaum muslim, tegas dan berwibawa. Umat akan terus terhina karena tidak ada yang menjaga agama ini dengan lantang dan berani. Ketiadaan Khilafah telah menjadi bencana terbesar dan kepiluan panjang bagi umat abad ini.

Rakyat tersekat-sekat oleh negara bangsa, terpisah karena kepentingan nasional masing-masing negeri, dan terhalang oleh sekularisme yang menggejala dalam pikiran dan perasaan umat.

Akibatnya, tidak pernah tergambar betapa indahnya persatuan umat dalam naungan Khilafah.

Kini, persatuan umat Islam dalam Khilafah dianggap sebagai perkara sulit terwujud. Akan tetapi, memang inilah yang Barat inginkan dari umat Islam, yakni hilangnya keyakinan dan kepercayaan diri umat sebagai umat terbaik.

Maka, hanya dengan tegaknya syariat Islam secara kafah, agama ini terlindungi, keadilan pun hadir.

Alhasil, seruan penegakan syariat Islam harus terus disuarakan agar umat memahami bahwa satu-satunya pilihan hidup terbaik saat ini dan seterusnya adalah diterapkannya syariat Islam di segala aspek kehidupan.
Walahu’alam.

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:

Komentar