Solusi Syar'i Fenomena #Kaburajadulu

(Foto: RRI)
Oleh Yayat Rohayati*
Akhir-akhir ini sedang trending #kaburajadulu di berbagai platform media sosial, salah satunya media X. Mereka merekomendasikan negara-negara seperti Jerman, Jepang, Amerika, hingga Australia sebagai tujuan yang tepat.
Fenomena #Kaburajadulu berangkat dari kekecewaan anak muda sebagai generasi penerus, terhadap kebijakan para penguasa. Mereka berharap pendidikan murah dan berkualitas, susah. Mereka ingin mendapatkan pekerjaan, sulit. Kesehatan pun mahal. Kebutuhan hidup serba naik.
Akhirnya mereka berpendapat tidak ada kesempatan hidup lebih baik di negeri ini, seperti dalam pendidikan atau pun pekerjaan. Kemudian mereka melihat kesempatan ini ada diluar negeri dan lebih menjanjikan.
Banyaknya postingan dari warganet yang sudah pindah ke negara lain yang hidupnya lebih baik dari pada negeri sendiri, membuat keinginan mereka untuk benar-benar #kaburajadulu semakin kuat.
Kondisi ini tak lepas dari pengaruh digitalisasi terutama sosmed yang menggambarkan tentang kehidupan negara lain.
Alhasil, kualitas pendidikan yang rendah di dalam negeri dihadapkan dengan banyaknya tawaran beasiswa ke luar negeri di negara maju semakin memberikan peluang untuk “kabur”.
Sulitnya mencari kerja dihadapkan dengan banyaknya tawaran kerja di luar negeri, baik pekerja terampil maupun kasar dengan gaji yang lebih tinggi di negara maju.
Akhirnya anak-anak muda berbondong-bondong mencari semua itu di luar negeri.
Menurut data Direktorat Jenderal Imigrasi KemenKumHan, dalam periode 2019 hingga April 2023 tercatat sekitar 3.912 warga negara Indonesia dengan usia 25-35 tahun berpindah kewarganegaraan ke Singapura.
Fenomena ini menandakan kegagalan penguasa dalam mengurusi rakyatnya. Penguasa dalam sistem yang berorientasi materi (kapitalisme) banyak membuat kebijakan yang berpihak pada para kapital.
Misalnya saja dalam pendidikan. Adanya liberalisasi pendidikan dalam sistem hari ini, menjadikan pendidikan sebagai hal lumrah untuk dikomersilkan pihak swasta. Sehingga hanya orang-orang bermodal besar yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.
Begitu pun dengan lapangan pekerjaan. Dimana pihak penyedia pekerjaan adalah mereka yang punya modal besar juga. Sehingga pertimbangan untung rugi menjadi prinsip mereka. Untuk mengefisiensi modal perusahaan bisa sewaktu-waktu memutus hubungan kerja, atau memberikan gaji yang tidak layak.
Dalam IsIam, Fenomena ini bisa terselesaikan dengan tuntas. Syariat IsIam mewajibkan negara menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Rasulullah saw bersabda:
"Imam/khalifan adalah raa'in (pengurus rakyat), dan ia bertanggungjawab atas pengurusan rakyatnya" (HR. Bukhari).
Hadist ini menegaskan bahwa penguasa atau negara harus bertanggungjawab memelihara atas urusan rakyatnya. Serta memberi perlindungan atas mereka.
Negara akan memberikan pendidikan gratis dan berkualitas, yang berbasis akidah IsIam. Sehingga melahirkan generasi berkepribadian IsIam.
Negara juga akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi setiap laki-laki baligh. Pengelolaan sumber daya alam oleh negara tentu akan membutuhkan banyak sumber daya manusia.
Sehingga tak kan ada rakyatnya yang merasa terdzolimi di negeri sendiri dan kabur ke negeri orang demi sebuah kesejahteraan.
Jadi, dengan menerapkan sistem IsIam di tengah-tengah kehidupan merupakan satu-satunya solusi tuntas segala problematika kehidupan. Karena hanya Aturan dari sang Pencipta yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu'alam.
*) Penulis adalah Jamaah Majelis Taklim Khoirunisa
Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.