220108195909-cara-.jpg

(Foto: Istimewa)

Cara Meraih Kebahagiaan Sejati, Butuh Peran Negara

Oleh Yuyun Suminah, A. Md*

Bahagia siapa yang tidak menginginkannya? Setiap orang bahkan rela melakukan berbagai cara untuk mewujudkannya. Bahkan menurut badan pusat statistik (BPS) kembali meliris laporan indek kebahagiaan 2021. Indeks kebahagiaan diukur melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK), terdapat tiga dimensi yang diukur yaitu kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup.

Jika melihat indek tersebut dikelompokan masyarakat bahagia dan masyarakat tidak bahagia. Ada beberapa provinsi yang masyarakatnya tidak bahagia seperti, Banten 68,08 Bengkulu 69,74, Papua 69,87, Nusa Tenggara Barat 69,98 dan lainnya termasuk Jawa Barat 70,23 (westjavatoday 31/12/21)

Tolak ukur rasa bahagia tersebut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang tinggi, orang yang berpendidikan S2 dan S3 memiliki tingkat kebahagiaan paling tinggi dibandingkan pendidikan di bawahnya. Hal itu dikarenakan orang yang berpendidikan tinggi akan mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar. Sehingga bisa mencukupi semua kebutuhan hidupnya, mulai dari kebutuhana pangan, sandang dan papan.

Seperti itulah tolak ukur kebahagian dalam sistem kapitalisme, memaknai kebahagiaan hanya dari segi materi semata. Sebuah sistem buatan manusia yang sangat materialistis tidak akan pernah membawa masyarakat pada kebahagiaan hakiki. Jika kebahagian diukur oleh materi seharusnya pemerintah melakukan evaluasi tentang pembangunan, ternyata masifnya pembangunan tidak selaras dengan kebahagiaan masyarakat.

Jika kebahagian diukur dari tingkat pendidikan, sejauh mana kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang terjangkau baik biaya maupun fasilitas, jika diukur dari banyaknya materi karena mendapatkan pekerjaan, sudahkah menyiapkan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi masyarakat.

Berbeda jauh dalam memahami kebahagian dalam Islam, kebahagian yang mendatangkan keridoan Allah SWT, tolak ukurnya bukan materi dan bukan karena pendidikan tinggi tapi bagaimana mengsyukuri apa yang sudah Allah berikan, menjalankan perintah dan laranganNya. Namun ada ranah yang bisa dilakukan oleh manusia yaitu ikhtiar terutama ranah yang harus dilakukan oleh negara.

Negara dalam Islam yang diamanahi kepengerusannya kepada seorang pemimpin, yang bertanggungjawab penuh dalam memberikan fasilitas dan kemudahan kepada masyarakat. Lantas, bagaimana mekanisme Islam dalam mewujudkan kebahagiaan bagi masyarakat dan selaras dengan berjalannya pembangunan yang ditujukan untuk masyarakat.

Negara akan mencukupi kebutuhan sandang, papan dan pangan masyarakat, memberikan kemudahan untuk mendapatkan semuanya, jika pun harus beli harganya terjangkau. Begitu juga dalam memperoleh pendidikan bagi masyarakat akan dengan mudahnya mengenyam pendidikan tanpa harus bingung memikirkan biayanya. Tak hanya itu negara juga memberikan seluas-luasnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang disesuaikan dengan pendidikannya.

"Imam (Khalifah) adalah raain (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya. (HR al-Bukhari)

Berbagai pembangunan yang dilakukan merata, tidak terpusat di kota saja, namun di pelosok pun dilakukan yang disesuikan dengan kebutuhan wilayah tersebut. Berbicara pembangunan tak lepas dari biaya. Dari mana biaya yang diperoleh oleh sistem Islam. Dalam sistem Islam Keuangannya berkonsep baitulmal, banyak sumber pemasukan diantaranya zakat, jizyah, dan lainnya termsuk sumber daya alam.

Dari pemasukan tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan rakyat, baik itu kesehatannya, pendidikannya dan lainnya. dengan demikian kebahagian pun akan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat dan itu semua didapatkan semata-mata untuk memudahkan kita beribadah kepada Allah. Sehingga bisa memaknai kehidupan ini untuk ibadah dan mengharapkan ridhoNya.

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS Az Zariyat 56).Wallahua'lam.

*) Penulis adalah guru dan pegiat literasi

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Komentar