CIPONGKOR, PRIANGANPOS.COM - Pusat Pengembangan Bisnis dan Keterampilan (PUSBIK) meresmikan bengkel kerja kerajinan bambu, yang berlokasi di Kampung Warung Awi Desa Sukamulya RT 03/05 tower 2 Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 27 Agustus 2022.
Untuk diketahui, PUSBIK merupakan sebuah center of excellence yang dibangun dengan tujuan optimalisasi kekayaan sumberdaya lokal, berusaha membangun sinergi, meningkatkan nilai tambah, sehingga bisa memberikan manfaat dan inspirasi pada semua.
Bersamaan dengan peresmian bengkel kerja ini, secara resmi diluncurkan pula merek dagang PUSBIK bernama “BamBIK”. Selama ini Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang memiliki khazanah kekayaan tanaman bambu beragam.
Beberapa laporan menyebutkan, dari total 1.250 jenis bambu yang terdapat di dunia, sekitar 159 spesies diperkirakan terdapat di Indonesia dan dari jumlah tersebut, 88 jenis merupakan tanaman endemik.
Bambu sudah sejak lama dikenal memiliki kegunaan dan biasa digunakan berbagai macam kepentingan seperti untuk bahan bangunan (konstruksi), transportasi, pembuatan alat musik seperti angklung, kuliner, kerajinan rumah tangga dan ornamen, serta sebagai bahan pengobatan alami, dan lain-lain.
Bambu memiliki umur hidup yang relatif lebih cepat dibanding pohon kayu, dan melalui sentuhan teknologi laminasi bambu bisa dibuat menyerupai kayu lapis, bahkan dengan kualitas lebih bagus sehingga di masa yang akan datang bambu disinyalir akan menggeser fungsi kayu atau kayu lapis.
Acara peresmian bengkel kerja kerajinan bambu PUSBIK ini dihadiri kepala desa, Kepala MAN Bandung Barat, dan stakeholders terkait lainnya.
Hal yang menarik, setelah peresmian dilanjutkan dengan diskusi eksklusif bersama lima anggota komunitas bambu yang ada di Kecamatan Cipongkor, serta perwakilan pemuda yang diwakili siswa-siswi dari MAN Bandung Barat, dengan tema “Bambu: Kemandirian, Keberlanjutan Tata Kelola serta Kesejahteraan”.
Wagita, salah seorang inisiator program dari PUSBIK mengatakan, tema diskusi sengaja selain menekankan aspek kemandirian, keberlanjutan tata Kelola, yang tak kalah pentingnya harus berujung pada kesejahteraan.
“Hal ini sesuai dengan tujuan PUSBIK, bahwa kami ingin memulai pengelolaan potensi bambu kita dengan brand bisnis, Adapun sisi dan visi sosialnya kami tempatkan pada kata ‘keterampilan’ setelah kata ‘bisnis’, karena kami yakin dengan satu idiom bahwa hanya ‘mereka yang punya, yang bisa memberi’,” ungkapnya.
Sementara itu, Kang Hendi dari Komunitas RABUSA awiCraft, memberikan gambaran secara mendasar bahwa, ada tiga kunci utama dalam melakukan tatakelola bambu untuk bisa memastikan bisa berdampak pada kesejahteraan buat semua yaitu, pasar, produksi dan konservasi.
Bersamaan dengan acara peresmian bengkel kerja tersebut, PUSBIK juga mengadakan acara bakti sosial untuk masyarakat sekitar dan berhasil memfasilitasi antara lain Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih SCTV Indosiar, yang secara simbolis menyerahkan paket sembako kepada warga yang berhak menerima.
Paket sembako yang sama juga akan dibagikan melalui spot-spot penerima bantuan bekerja sama dengan 11 ketua RT dari tiga desa di sekitar PUSBIK, yaitu Suka Mulya, Citalem dan Karang Anyar Kabupaten Bandung Barat. Hadir pula mitra-mitra lainnya antara lain MAN Bandung Barat, PT. Tectona, Dana Mustadhafin dan jajaran pemerintahan desa, RW, RT serta tokoh setempat.
Peresmian bengkel kerja kerajinan bambu PUSBIK hanya sebuah prakarsa kecil dari sebuah desa di Bandung Barat, yang semoga setidaknya dapat menjadi semilir angin di rerimbunan daun dan pohon bambu di tengah arus kepunahan tanaman bambu di beberapa wilayah di Indonesia.
Seperti tagline yang diusung, “Berguru pada value bambu: tumbuh cepat, mengakar kuat, berdiri tegak, tak mudah pecah”. Keberadaan bengkel kerja kerajinan bambu PUSBIK ini, diharapkan dapat memberikan penekanan lebih kuat tentang makna mendalam akan hakikat dan keberadaan tanaman bambu di tanah air.
Partisipasi anak-anak muda yang diwakili siswa-siswi MAN Bandung Barat, adalah pembuktian langkah bahwa bagaimana pasar, produksi dan konservasi tanaman bambu mengalami pengarusutamaan di kalangan generasi muda.**
