Syiar Jumat

2020; Tidak (Lagi) Menunggu Mukjizat

200107002830-2020-.png

(IST)

Oleh Dr. H. Nandang Burhanudin, Lc. M.Si*

Mengimani hal ghaib, adalah bagian dari rukun man yang harus terpatri dalam akidah kita selaku Muslim. Namun sepatutnya, keimanan pada hal ghaib tidak menggiring kita menjadi umat "penunggu mukjizat." Kendatipun dalam Al-Qur'an ditegaskan, Allah membersamai umat yang tiada lain umat terbaik yang dikeluarkan untuk seluruh manusia. "An-Nashru min 'indillah" (pertolongan dari sisi Allah). Tak ada yang salah dengan dalil. Tapi yang tidak tepat, menjadikan dalil untuk berdalih atas keterpurukan umat belakangan ini.

Ratapan kita sebagai umat Islam, bukan berkurang. Malah di penghujung 2019, semakin bertambah. Palestina hanya tersisa beberapa kilometer saja yang belum dijajah Zionis Israel. Tragedi Muslim Rohingya menambah kelam, seusai tragedi kemanusiaan di Bosnia Herzegovina. Lalu jutaan orang meregang nyawa dan menjadi pengungsi di Syiria, Irak. Penangkapan ulama di Mesir, Saudi Arabia. Paling hot adalah tragedi kamp konsentrasi China terhadap Muslim Uighur dan UU rasis terhadap Muslim India. Semua tragedi menyayat hati, melukai jiwa, dan tentunya memilukan.

Namun ada hal lain yang tidak kalah memilukan, yaitu hasil riset dari Universitas George Washington AS (tahun 2010), soal negara mana saja yang konsisten dengan ajaran-ajaran syariat Islam secara leterlek. Anda bisa tebak hasilnya? Bukan Saudi pengelola dua tanah haram, bukan Mesir pemilik institusi Al-Azhar. Tapi negara Irlandia. Padahal mayoritas penduduk Irlandia bukan Muslim. Namun mereka berada di posisi tertinggi sebagai negeri yang skripturalis dalam menjalankan "ajaran syariat Islam."

Saudi berada di posisi 91, Indonesia di posisi 104, Mesir di posisi 128. Maroko 128. Yaman 180. Qatar 111. Israel 27. Malaysia 33. Jordania 168. Urutan pertama Irlandia, dilanjutkan Denmark, Luxemberg, Swedia, Norwegia.

Basis penelitian tersebut adalah; studi komparatif terhadap semua UU dari 218 negara. Poin yang dinilai adalah: dasar-dasar perundangan, sistem ekonomi, manajemen, tata kelola hubungan pemerintahan dengan rakyat, keadilan sosial, pembagian sumber daya, kebebasan berpendapat, dan kemudahan-kemudahan sesuai dengan 113 prinsip Syariat Islam yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. (Sumber: Global Economy Journal
Volume 10, Issue 3 2010 Article 1
An Economic IslamicityIndex,
Scheherazade S. Rehman Hossein Askar, Published by Berkeley Electronic Press, 2010, hal. 19.)

"Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kesetaraan di depan hukum, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami," jelas Askari.

Sebagai Muslim, kita patut merenung seserius dan sesering mungkin. Mengapa agama dan Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak membuat kita menjadi produktif? Kita tak ubahnya dinosaurus, berbadan besar namun tak punya tenaga. Lalu sibuk mengutuk waktu, menghitung akhir zaman, menanti mam Mahdi. Sebab bukankah Allah berfirman, " Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)." (Al-Anfal: 60). Juga diperintahkan untuk selalu menyiapkan hari esok lebih baik dari hari ini. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr: 18)

Jadi mempersiapkan power untuk hari esok lebih baik, adalah perintah Al-Quran. Lalu power apa yang belum dimiliki umat Islam saat ini? Power ilmu teknologi, power ekonomi, power seni budaya, power SDM, dan power-power lain sesuai dengan tagline pemerintah saat ini: Manusia Unggul, Indonesia Maju. Buktikan!.

*) Penulis adalah Ketua Perkumpulan Masyarakat Anti Radikalisme, Terorisme dan Islamophobia. Direktur Pendidikan Pondok Modern Insan Teladan Boarding School, Cileunyi Kab Bandung

Penulis/Pewarta:
Editor: Ibnu
©2020 PRIANGANPOS.COM

TAGS:

Komentar