Jalin Sinergi Ulama Dengan Umara

230218081211-jalin.jpeg

(Foto: Ilustrasi)

Kata ulama dan umara sering menimbulkan kerancuan di dalam masyarakat. Seorang ulama bertanggung jawab untuk menuntun masyarakat, termasuk pemerintah, agar tetap di atas jalan yang benar, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, al- 'ulama' waratsah al-anbiya' (ulama adalah ahli waris Nabi). Sedangkan, umara adalah pemimpin eksekutif yang bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan, yang dalam menjalankan kepemerintahan itu tidak boleh bertentangan dengan prinsip yang dituntunkan para ulama.

Ulama adalah representasi dan sekaligus pengawal ajaran Alquran dan hadits, sedangkan umara lebih kepada implementator dari kebijakan universal yang digariskan ulama. Kedua-duanya berfungsi untuk mewujudkan masyarakat yang ideal, sebuah masyarakat yang mandiri dan berjalan di atas landasan dan prinsip yang benar. Tidak boleh satu sama lain mengeklaim diri lebih benar atau lebih berperan.

Keterlibatan ulama dalam membangun bangsa sangatlah diperlukan, karena mereka dapat memberikan bimbingan serta arahan terhadap para pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan.

Ada dua golongan manusia yang jika mereka baik, akan baik seluruh manusia, dan jika mereka rusak, akan rusaklah seluruh manusia. Mereka adalah ulama dan umara.

Ulama dan umara harus fokus kepada keahliannya masing-masing dan mereka tetap bekerjasama dalam mengambil kebijakan demi kemaslahatan bersama.
Saat ini umat menunjukkan seolah-olah ulama dan umara memiliki kesenjangan, yang dibumbui propaganda" dengan memasukkan isu-isu SARA di dalamnya. Seolah-olah ulama dan umara berada di jalan yang berbeda dan saling bertentangan. Akibatnya masyarakat resah akan hal ini, mereka harus mengikuti yang mana, ulama atau umara. Maka masyarakat harus waspada dengan propaganda dengan hal ini dan harus waspada dengan ulama yang berstatus ulama su’ (ulama yang jelek). Orientasinya sudah bukan lagi dakwah perdamaian, tetapi hanya politik, jabatan, dan kekuasaan.

Seharusnya kekuasaan adalah amanat yang harus ditunaikan dengan jujur, adil dan ikhlas, bukan untuk dibangga-banggakan dan disalahgunakan. Penguasa tidak boleh memperturutkan hawa nafsu, melakukan penyimpangan dan menganiaya rakyat.

Para ulama adalah pewaris Nabi dan penerus tugas-tugasnya di dunia, yakni membawa kabar gembira, memberi peringatan, mengajak kepada Allah, dan memberi cahaya. "Wahai Nabi, sungguh Kami mengutus engkau sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, serta sebagai pelita pemberi cahaya. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang beriman, bahwa mereka akan memperoleh karunia yang besar dari Allah." (QS 33:45-47).

Sedangkan ulul amri terdapat dalam surat An-Nisa` berikut.
"Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan mereka yang memegang kekuasaan di antara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat."
(QS 4:59). Ulul amri adalah orang yang memegang kekuasaan, bertanggung jawab, dan dapat mengambil keputusan, serta menangani berbagai persoalan. Di dalam Islam tidak ada pemisahan yang tajam antara soal-soal yang sakral dengan yang secular. Pemerintah diharapkan dapat berjalan di atas kebenaran dan bertindak sebagai imam yang saleh, yakni benar dan bersih pula. Kita harus mematuhi kekuasaan yang demikian. Kalau tidak segala ketertiban takkan ada artinya. Di antara kewajiban umara adalah menjalankan pemerintahan berkeadilan.
"Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat."

Menghadapi berbagai perubahan besar yang cepat dan majemuk dalam masyarakat serta menghadapi pergeseran tata nilai yang mengaburkan antara yang benar dan yang salah, antara yang baik dan yang buruk, para ulama niscaya mengemban fungsi:
1. Basyiran, memberi kabar gembira, harapan, dan perspektif baru bagi upaya pembangunan.
2. Nadziran, memberikan kesadaran kritis kepada masyarakat agar mampu mengembangkan penalaran kritis terhadap determinisme ideologis maupun teknologis dengan menyadari permasalahan dan potensi untuk mengubah nasibnya sendiri.
3. Da'iyan ilal haqq, memanggil kepada kebenaran hakiki yang kadang dikaburkan oleh propaganda maupun pendapat umum.
4. Sirajan muniran, memberikan terang iman dan pencerahan akal budi. Semua itu niscaya dilakukan ulama dan umara dengan menampilkan Islam yang hakiki sebagai rahmatan lil-‘alamin.

Wallahu a'lam bishowab.

Pengirim: Mariam

Alamat :  Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:

Komentar