Lagi, Pemuda Demi Eksistensi Berujung Jeruji

230630162010-lagi-.jpg

Ilustrasi (Foto: Hipwee)

Oleh Prita Widya Putri S.Pd*

Telah terjadi pemukulan terhadap bus pariwisata yang dilakukan oleh lima orang pemuda di Solokanjeruk-Rancaekek terjadi pada Minggu 18/6). Berdasarkan penuturan Kapolresta Bandung, Kombes Kusworo Wibowo, aksi pemukulan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan eksistensi semata setelah merayakan ulang tahun komunitasnya. (Kumparannews).

Atas nama eksistensi diri 5 orang pemuda melakukan perbuatan yang melanggar hukum, ketertiban dan keamanan lalu lintas. Pemukulan tanpa sebab yang jelas dan dilakukan hanya untuk merayakan ulang tahun sebuah komunitas pemuda inipun sempat viral menjadi video yang berdurasi 50 detik di media sosial. Terbukti dari rekaman bahwa pelaku menggunakan senjata besi untuk menyerang dari sisi kanan bus. Berdasarkan informasi yang diberikan para pelaku, hal tersebut dilakukan demi gaya.

Potensi pemuda yang cenderung memiliki semangat, berani dan kreativitas tinggi seyogyanya menjadi aset bangsa yang menjadi potensi besar untuk perubahan positif dan kemajuan untuk membangun masyarakat. Namun sungguh menjadi ironi, gambaran kehidupan pemuda saat ini, pemuda yang sudah semestinya menjadi lokomotif perubahan dan pendobrak peradaban terlenakan pada tindakan kriminal atas nama eksistensi diri.

Potret buram ini sungguh berbanding terbalik pada saat islam ditegakkan sebagai sistem kehidupan. Era islam adalah periode yang dikenal dengan keberhasilannya dalam membangun pemuda yang cemerlang. Dalam era ini pemuda memiliki komitmen yang kuat terhadap penjagaan agama, negara dan masyarakat. Mereka ikut serta berjuang menegakkan keadilan dan menyebarkan ajaran islam secara luas meliputi berbagai pelosok dunia. Banyak pemuda yang berperan sebagai pejuang, penulis ilmu-ilmu dan ulama yang memberikan pengaruh besar bagi kebangkitan umat. Pemuda pada saat islam ditegakkan sebagai sistem kehidupan, telah membuktikan bahwa dedikasi mereka mampu mengubah dunia.

Karenannya untuk mengoptimalkan potensi pemuda, diperlukan dukungan dan pembinaan yang menyeluruh dan difasilitasi oleh negara. Negara perlu menciptakan kebijakan yang paripurna dalam mengembangkan potensi pemuda sesuai dengan nilai-nilai islam.
Namun keberhasilan tersebut tidak dapat dipisahkan dengan aturan yang menggarisbawahinya yaitu penerapan sistem islam yang diterapkan secara kaffah dalam berbagai sendi kehidupan, karenanya permasalahan kepemudaan akan senantiasa terus berlanjut selama sistem kehidupan yang jauh dari islam ini masih diterapkan. Wallahualam bi ash showab.

*) Penulis adalah pemerhati sosial tinggal di Kab. Bandung

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:

Komentar