Krisis moral, kriminalitas viral. Lho ga bahaya ta?

(Ist)
Oleh Melinda Harumsah, S.E*
Masa remaja ialah fase transisi dari fase anak-anak menjadi dewasa, di mana hal tersebut merubah psikologis yang signifikan.
Pada akhirnya, kondisi emosional yang tidak stabil sering kali menjadi pemicu perilaku menyimpang pada remaja.
Maka dari itu, peran lingkungan sangat penting dalam membentuk perilaku remaja.
Karena, lingkungan yang negatif cenderung menghasilkan perilaku negatif, sementara lingkungan yang positif dapat mendorong perilaku positif pada remaja.
Adapun perkembangan teknologi sangat mengubah gaya kehidupan masyarakat.
Diantaranya, seperti internet dan media sosial sekarang menjadi sumber utama bagi remaja untuk memperoleh informasi serta bersosialisasi lewat perangkat digital.
Sayangnya, media sosial tidak selalu berisi tentang hal – hal positif, namun juga adanya hal – hal negatif.
Sehingga, adanya ruang kebebasan yang ditawarkan oleh sosial media seringkali dimanfaatkan untuk menyebarkan konten kekerasan dan seksualitas.
Salah satu konten kekerasan yang tersebar di media sosial tersebut biasanya berisi tawuran atau kenakalan remaja lainnya.
Adapun, pelaku tawuran memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi, bertukar informasi atau berbagi konten melalui komunitas (grup) virtual.
Maka, konten yang dibagikan tersebut masuk dalam ranah kejahatan kriminal.
Sekilas kutipan dari Short Youtube @tudeynyus mengatakan bahwa, salah satu organisasi kejahatan paling ditakuti di dunia yaitu RUSIA dengan segala aspek khasnya.
Mafia Rusia adalah salah satu sindikat kejahatan terbesar, paling mematikan, dan paling ditakuti didunia.
Adapun, struktur dan cara operasinya telah berkembang, hingga pada tahun 2012 saja ada lebih dari 6.000 kelompok kriminal.
Hingga lebih dari 200, diantaranya beroperasi diseluruh dunia.
Seperti tato yang masif, tubuh tinggi kekar menjadi salah satu ciri yang khas dari mafia Rusia.
Begitu juga dengan aktifitas kriminalnya, mulai dari perdagangan narkoba, prostitusi, perdagangan manusia, pencucian uang, perjudian dan lainnya.
Dengan melihat peningkatan tantangan sosial di era globalisasi dan digitalisasi, terjadi penurunan nilai – nilai moral dan etika.
Sehingga, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran
bahwa generasi muda mungkin kekurangan landasan karakter yang kuat untuk
menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Dalam lingkungan yang terus berubah, interaksi sosial dan akses informasi yang semakin luas, keluarga menjadi tempat utama bagi seorang
anak untuk mempelajari nilai – nilai penting melelui interaksi, percakapan, dan pengamatan.
Sehingga, peran orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan prinsip dan norma sosial serta memberikan ajaran bagaimana mengimplementasikan nilai – nilai di atas dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun, generasi muda saat ini diharapkan memiliki sikap kritis, peduli, berperilaku baik dan benar, percaya diri, konsisten dalam tindakan, serta selalu berjuang untuk bangsa dan negara dalam konteks NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Namun, bukti terbaru menunjukkan bahwa mencapai kondisi tersebut sangat sulit di kalangan generasi muda, terbukti dari fenomena tawuran di sekolah.
Sehingga, fakta ini menekankan perlunya peningkatan peran sekolah sebagai agen perubahan dalam pendidikan generasi muda.
Selain dari pada itu, keluarga dan lingkungan juga memainkan peran penting dalam membentuk karakter generasi penerus.
Jangan sampai, bentrokan antar remaja telah menjadi kejadian umum dalam konteks keamanan di Indonesia.
Sehingga, fenomena ini berpotensi mempengaruhi perubahan investasi dan perekonomian negara.
Masifnya perkelahian remaja merupakan peristiwa sosial yang sering terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Yang dimana terjadi konfrontasi fisik atau verbal antara kelompok remaja, yang kebanyakan terjadi di tempat umum seperti sekolah, jalan, atau tempat pertemuan generasi muda yang lain.
Kenakalan remaja pada akhir ini telah berubah menjadi fenomena sosial yang mengkhawatirkan.
Sehingga, hal ini disebabkan oleh kecenderungan perilaku siswa yang semakin ekstrim.
Hal tersebut menjurus pada perbuatan kriminal yang bisa membahayakan keselamatan orang lain.
Jika terus dibiarkan tanpa kontrol sosial yang ketat, patologi sosial berupa kenakalan pada remaja ini dapat mengganggu rasa keamanan masyarakat dan mengancam eksistensi secara keseluruhan.
Seperti peristiwa kriminal, yang mengerikan dari gank motor yang telah berulah kembali, yang diduga melakukan tawuran yang meresahkan warga setempat.
Polsek Cidaun Cianjur melakukan tindakan tegas dalam menindaklanjuti laporan masyarakat.
Peristiwa tersebut terjadi pada hari Minggu (22/9/2024) sekitar pukul 00.15 WIB di Jalan Raya Cibuntu Desa Cisalak kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur.
Lima belas orang yang diduga akan terlibat tawuran tersebut.
Dari tangan para pelaku, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya satu bilah pisau dan satu bilah golok serta kendaraan roda dua.
"Para pelaku telah dibawa ke Puskesmas DTP Cidaun untuk pemeriksaan luar, "kata Muslikan
Dari banyaknya faktor pemicu tawuran, seperti lemahnya kontrol diri, krisis identitas, tidak ada landasan penguatan moralitas, disfungsi keluarga, tekanan ekonomi/hidup, lingkungan yang rusak (termasuk pengaruh, media, kegagalan pendidikan) lemahnya hukum dan penegakannya.
Semua faktor itu adalah buah penerapan sistem sekuler kapitalis, sebagaiman dapat memisahkan agama dari kehidupannya.
Maka tak heran, keuntungan para sekuler, memungkinkan orang untuk mengekspresikan pendapat dan keyakinan mereka secara bebas.
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
waltakum mingkum ummatuy yad'uuna ilal-khoiri wa ya-muruuna bil-ma'ruufi wa yan-hauna 'anil-mungkar, wa ulaaa-ika humul-muflihuun
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 104)
Walahu'alambisshoab.
*) Penulis adalah Tim Komunitas Smart With Islam
Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.